Sabtu, 14 Agustus 2010

Kakekku seorang pejuang....


-->
Searching nama kirdiat ternyata memunculan 38,700 items. tapi dari sekian nama ada satu yang membuatku bangga dan juga sedih ternyata kakekku adalah pejuang. terima kasih kepada saudara  Tonang Mallongi, S.Pd.MA yang telah menshare secuil cerita besar buat negeri ini..
 

Buku yang berjudul Detik – detik Peristiwa Perdjuangan Gorontalo Merdeka 23 Djanuari – 16 Djuni 1942 yang disusun oleh Pedjuang Nasional, diterbitkan oleh BPPST, Djalan Gunung Batu Putih 4B Makassar dan dalam sambutan pendahuluannya Penyusun mencantumkan Djakarta Djanuari 1957 dengan tebal 113 halaman, buku ini juga di jadikan rujukan buku sumber dalam penulisan sejarah Gorontalo merdeka oleh Yayasan 23 Januari pada tahun 1980
Buku ini diawali dengan kata pendahuluan dan dilanjutkan dengan seluruh kejadian dan peristiwa yang berkenaan dengan Perjuangan Gorontalo Merdeka dari tanggal 23 Januari – 16 Juni 1942, pembahasannya dimulai dari Letak dan Keadaan Daerah Gorontalo Saat itu, Sikap Ra’jat dan Radja2 Gorontalo terhadap Belanda, Tanggal 23 Djanuari 1942 Meletusnya Pemberontakan, Pembentukan Pengawal Kota, Penangkapan 6 orang Belanda sesudah Aksi Pemberontakan, Pembentukan Badan Pemerintahan, Pengiriman Delegasi, Penangkapan terhadap Serdadu2 KNIL jang datang Mendarat di Gorontalo, Pengertian bersama dari pihak kepala2 distrik dan pembesar2 lainnja Tertjipta, Upatjara pemeriksaaan (Groot Inspeksi) Barisan Angkatan Perang, Kapal motor *Urania* datang Menbawa Tawanan dari Luwuk di Gorontalo, Pengiriman Delegasi jang Pertama untuk Menemui Pimpinan Angkatan Perang Djepang di Langoan, Pengiriman Delegasi yang Kedua, Pengiriman Delegasi yang Ketiga, Laksaman JAMADA Utusan Pemerintah di Tokio Mengadakan Kundjungan Kehormatan kepada Pemerintah Nasional Gorontalo, Pemerintahan Nasional Berakhir, dan Ditutup dengan Pernyataan.
Letak dan Keadaan Daerah Gorontalo
Letak dan keadaan daerah Gorontalo yang terdapat dalam buku ini tentunya sudah berbeda dengan keadaan Gorontalo saat ini, namun penulis akan mencoba menggambarkan Gorontalo saat itu sebagai mana adanya. Daerah Gorontalo ada terletak di bagian tengah dari semenanjung Utara dari pulai Sulawesi, yang terletak ditepi pantai teluk Gorontalo dan dekat pada katulistiwa. Dataran Gorontalo ada dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan Tilongkabila, Dumbo dan Hulapada’a, sehingga dataran merupakan satu lembah yang sangat luas dan sebab itulah hawa di Gorontalo tidak begitu panas, walaupun terletak pada garis katulistiwa. Luasnya daerah Gorontalo meliputi Kabupaten Sulawesi utara (termasuk Swapraja Buwol tingkat kewedanan), Daerah Gorontalo yang terdiri dari atas kewedanan-kewedanan :
a. Gorontalo
b. Limboto
c. Suwawa
d. Kwandang
e. Boalemo
Daerah Buwol (kewedanan/swapradja Buwol)
Daerah Gorontalo berbatas pada sulawesi utara dengan laut sulawesi, pada sebelah timur dengan kabupaten Bolaang Mengondow, pada sebelah selatan dengan teluk Gorontalo dan pada sebelah barat dengan Swapradja Toli-toli. Penduduk asli daerah Gorontalo adala kira-kira 400.000 jiwa yang 100 % adalah Muslim, (adapun penduduk Gorontalo yang beragama Nasrani, ialah mereka yang tergolong kaum pendatang antara lain saudara-saudara suku Minahasa dan Sangir Talaud). Hasil bumi adalah Kopra, Rotan dan Damar, sementara makanan pokok masyarakat Gorontalo adalah Beras dan jagung, untuk mereka yang tinggal dikota-kota lebih suka beras tetapi bagi mereka yang tinggal di pedalaman lebih suka jagung. Ditengah-tengah daerah Gorontalo terdapat Danau Limboto yang dapat menghasilkan ikan yang menjadi makanan masyarakat Gorontalo. Daerah Gorontalo sekarang ini, (Baca : Pada saat sebelum provinsi) adalah terdiri dari lima distrik / Kewedanan, dimana dimasa lalu masing-masing kewedanan itu adalah merupakan kerajaan Gorontalo, Kerajaan Limboto, Kerajaan Suwawa, Kerajaan Bolango, dan kerajaan tinggola / Andagile.
Dalam lingkungan masyarakat adat Gorontalo, daerah Gorontalo merupakan satu daerah yang disebut DULUWO LIMO LO POHALA’A (Dua dalam lingkungan lima kekeluargaan) yang dua itu adalah Gorontalo – Limboto, Limboto – Gorontalo (dalam istilah adat jika menyebut Gorontalo – Limboto, maka kalimat harus diulangi dengan mendahulukan Limboto-Gorontalo, (ucapan yang berulang Limboto-Gorontalo, Gorontalo-Limboto) ini sebagai lambang kedudukan kedua kerajaan itu yang sama tingkat dan tarafnya dalam lingkungan lima kekeluargaan tersebut. Bagi yang berada didaerah Gorontalo yang mengucapkan ucapan tersebut maka haruslah mendahulukan kata limboto dan sebaliknya bagi yang berada di daerah Limboto ia harus mendahulukan Gorontalo, hal yang demikian adalah sebagai tanda penghormatan orang Limboto kepada Gorontalo dan orang Gorontalo kepada Limboto.
Sikap rakyat dan Raja-raja Gorontalo terhadap Belanda
Sejak kedatangan Belanda di daerah Gorontalo dan menaklukkan daerah ini, raja-raja dan rakyat Gorontalo senantiasa memperlihatkan sikap melawan penjajahan Belanda. Hanya dikarenakan kalah dalam kekuatan persenjataan maka Belanda tetap dalam pihak Menang sehingga kekuatan dan perlawanan raja-raja dengan rakyatnya dapat dipatahkan dengan mudah yang berakhir dengan tertangkapnya raja-raja serta dihukum buang (diasingkan). Adapun yang mendapat hukuman buang adalah SULTAN ISKANDAR BIJA ditangkap dan dihukum buang ke CEYLON, SULTAN MUHAMMAD (dari Limboto) dihukum buang ke Ambon dan Raja PANIPI Dibuang Ketanah Jawa. Sedikit pertanyaan yang mengelitik dari penulis apakah ketiga raja-raja diatas dapat ditelusuri makam maupun sejarahnya? Mungkin perlu dijawab dengan sebuah penelitian dan penelusuran bagi para pemerhati sejarah daerah Gorontalo.
Pada tahun 1887 Belanda sudah dapat mengakhiri kekuasaan para raja – raja di daerah Gorontalo dan semenjak itu daerah Gorontalo diperintah langsung oleh pemerintah Hindia-Belanda (Rechtstreeks Bestuur). Walupun Gorontalo dibawah kekuasaan Belanda, namun semangat perlawanan rakyat tidak kunjung padam. Jika di tanah jawa pada tahun 1912 berdiri organisasi BUDI UTOMO, maka di daerah Gorontalo pada masa itu berdiri yang namanya SINAR BUDI. SINAR BUDI tersebut dipelopori oleh POTIHEDU MONOARFA seorang pembesar pamong pradja dan SALEHE MONA seorang intelek yang terkemuka serta HUSAIN KATILI. Ketiganya adalah tokoh-tokoh yang terkemua saat itu. SINAR BUDI bergerak dilapangan sosial dan mengadakan perubahan-perubahan radikal dikalangan hidup dan kehidupan masyarakat Gorontalo.
SINAR BUDI bertujuan memperbaiki dan mengangkat keadaan dan nasib rakyat yang tertekan sebagai akibat penjajahan Belanda, dan SINAR BUDI memberi bimbingan serta gaya kepemimpinan yang praktis menuju kearah perbaikan taraf hidup dan penghidupan yang lebih baik. Pada masa itu masyarakat Gorontalo masih tertekan oleh keadaan feodalisme dan berjuistis. Oleh karena tindakan SINAR BUDI dapat dirasakan manfaatnya, terutama bagi golongan tertindas, maka lambat laun SINAR BUDI mendapat pengikut yang sangat besar jumlahnya dan kebanyakan dari mereka adalah masyarakat biasa. Bahkan bukan saja dari kaum-kaum proletar akan tetapi juga dari bangsawan yang insyaf dan berjiwa demokrasi. SINAR BUDI mendapat sambutan yang hangat serta besar sekali dari masyarakat. Ribuan pengikutnya mengalir untuk masuk SINAR BUDI sehingga pemerintah Hindia-Belanda mulai curiga dan gelisah.
Dengan cara yang licik para pemuda-pemuda dan pemimpin-pemimpin SINAR BUDI yang terdiri dari tokoh-tokoh bangsawan yang berpengaruh mulai didekati oleh pemerintah dengan dibujuk dengan berbagai macam rupa rayuan dan bujukan, akan tetapi kesadaran nasional, untuk memperbaiki nasib rakyat maka rayuan itu tidak pernah di indahkan bahkan pemimpin-pemimpin SINAR BUDI tetap melaksanakan program dan kegiatannya dan sejak saat itu, rakyat Gorontalo sudah mengenal dan mengerti akan cara-cara berorganisasi dan perkumpulan. Jam sejarah terus berputar, sesudah SINAR BUDI muncul pula Sarekat Ilsam (S.I) yang menggembleng seluruh rakyat Gorontalo yang 100 % beragama Islam untuk masuk didalamnya termasuk para pemuda yang sudah mencapai umur 18 tahun.
Pada tahun 1926 seluruh bagian dari daerah Gorontalo terlibat dalam sebuah pemberontakan yang dipelopori oleh Sarekat Islam (oleh rakyat Gorontalo dikenal dengan Sariika). Pemerintah Hindia-Belanda mengerahkan pasukannya yang terdiri atas Marsose dan polisi bersenjata (Gewaoende Politie) yang dapat memadamkan pemberontakan tersebut. Sesudah tahun 1926, walupun pemberontakan gagal, semangat perjuangan rakyat Gorontalo masih tetap berkobar. Pada tahun 1929 berdirilah perkumpulan Muhammadiyah yang dipelopori oleh TOM OLI’I, I.BADA, U.H.BULUATI, H. AKASE, MUHAMMAD DUNGGIO, HADJI JUSUF ABAS, MUHSIN MUHAMMAD. Sementara Aisiyah dipelopori oleh MARJAN LAMADILAU, MARIA SOLEMAN, MARIE DAMBEA, IDA DUNDA, NJ.LATIFA KAMBA, HADIDJA HUSA dan NONI ARBIE serta ZUBAIDAH DUNGGA.
Sebagai pemimpin Hizbulwathon ialah IBRAHIM MUHAMMAD dan UMAR HADJARATI, kemudian pada tahun 1930 berdiri pula JONG ISLAMIETEN BOND (JIB) yang dipelopori oleh DJAFAR ARBIE, S.KIRDIAT, TJANI LAMATO, MARIE OLI’I HAWA ARBI. Setahun kemudian berdiri pula PARTIJ INDONESIA (PARTINDO) yang dipelopori oleh SURJO KUSUMO dan NANI WARTABONE. Pada tahun itu juga muncul PARTIJ SAREKAT ISLAM INDONESIA (PSSI) yang dipelopori oleh ABDULLAH TUMU dan AHMAD HIPPY serta GAFFAR USU. Pada tahun 1934 berdiri pula NAHDATU’SJSJAAFI’JAH yang kemudian menjelma menjadi Nahdlatul Ulama yang dipelopori oleh M. LIPUTO dan HASAN MILE serta KADLI M. DUNGGIO. Kesemua organisasi tersebut berjalan dengan baik diseluruh kewedanan dan kecamatan di daerah Gorontalo bahkan kemudian meliputi seluruh daerah di sulawesi utara (Keresidenan Manado).
Suasana agak sedikit terganggu dan hampir terjadi kericuhan terutama disekitar tahun-tahun 1930, 1931, dan 1932, pada tahun itu hampir terjadi pemberontakan rakyat. Gerakan-gerakan pembelaan kejadian-kejadian di TRIPOLI (afrika) sangat mempengaruhi dan hampir-hampir merupakan gerakan anti barat.
Semangat kebangkitan nasional makin berkobar dengan datangnya utusan pengurus besar PARTINDO yakni Mr.ISKAK dari Jawa. Ketika diadakan rapat raksasa, rakyat datang berbondong-bondong untuk menghadiri rapat tersebut. Ketika mr. ISKAK berpidato tentang Poenalo sanctie, yakni rakyat hidup menderita dibawa tekanan penjajah Belanda, inspektur polisi Belanda sebagai petugas keamanan lalu menurunkan Mr.ISKAK dari atas Mimbar, serta tidak mengizinkan rapat untuk di teruskan sampai selesai. Mr. ISKAK dibawah langsung oleh petugas-petugas polisi kerumah asisten residen yang letaknya kira-kira dua Km dari tempat rapat raksasa itu. rakyat merasa terseinggung dengan sikap polisi Belanda itu dan akan menyerbu dengan niat akan merampas Mr.ISKAK dari tangan polisi. Namun akhirnya suasana dapat dkendalikan oleh panitia sehingga rakyat kembali ketempat masing-masing dengan hati yang kecewa.
Peristiwa yang kedua kembali terjadi pada tahun 1932, setahun setelah kejadian diatas. Pada waktu itu diadakan rapat raksasa di halaman mesjid Djami Gorontalo untuk merayakan hari besar Islam Idul adha, ribuan umat datang dari seluruh polosok Gorontalo untuk mendengar pidato dan khutbah dari TOM OLI’I seorang pemimpin masyarakat yang berdarah bangsawan serta berpengaruh di hadapan rakyat Gorontalo terutama dikalangan warga Muhammadiah. Pembicara lain dalam rapat raksasa itu yakni R.HIMAM seorang Guru Muhammadiyah yang menggambarkan perjuangan umat Islam Indonesia dengan mengibaratkan seperti seorang yang berjalan di tengah hutan rimba yang penuh dengan binatang buas yang sewaktu-waktu bisa menerkam mangsanya, maka inspektur polisi BAKKER yang turut hadir dalam rapat tersebut sebagai wakil dari pemerintah Hindia-Belanda bersama Djogugu R. Monoarfa, dengan pedang terhunus menurunkan pembicara dari atas mimbar, serta membubarkan rapat itu dengan cara yang amat kasar, yakni dengan mengayunkan pedangnya sambil mendesak para hadirin untuk kebelakang. Dengan keadaan ini, maka suasana semakin panik dan tegang. Anak-anak dan wanita lari tak menentu arah dan sebaliknya kaum laki-laki makin mendesak untuk segera ke depan dan hendak menangkap Ispektur polisi BAKKER, namun salah seorang hadirin yakni JUSUF ABAS seorang pemberani dan ahli pencak silat melompat dan tampil kedepan inspektur polisi tersebut dan langsung menangkapnya.
Rakyat setelah melihat inspektur polisi sudah tertangkap lalu mengeroyok pembantunya yakni Hooff Agent KOOPER dan dua belas orang pengawal polisi bangsa Indonesia yang turut menjaga keamanan ketika itu. kejadian berlanjut bahkan diantara para hadirin ada yang menganjurkan “perang sabil” dan segera membunuh para kafir-kafir tersebut, namun berkat kerja sama dan pengaruh serta kekuasaan dari Djogugu R. Monoarfa seorang kepala distrik yang disegani dan dihormati oleh rakyat Gorontalo dan Tom Oli’I, maka peristiwa yang tidak sama-sama diharapkan terhindar dan nyawa dari pengawal-pengawal polisi terselamatkan. Dengan usaha yang luar biasa kedua tokoh-tokoh pembesar Gorontalo itu berusaha mengendalikan emosi dan mengajak ribuan hadirin yang hatinya telah tersinggung oleh tindakan-tindakan inspektur polisi yang tidak sopan itu untuk tetap bersabar dan dapat mengendalikan emosinya.
Pada sore itu juga Tom Oli’I mengirim kawat (informasi) kepada Kejaksaan Agung (Hoofd Parket) yang berisi memprotes serta menuntut hukuman terhadap tindakan inspektur polisi BAKKER yang telah mengacau itu. seminggu kemudian Tom Oli’I mendapat panggilan dari Asisten Residen Gorontalo atas nama pemerintahan di Bogor untuk menyampaikan permohonan maaf serta penjelasan kepada Tom Oli’I atas tindakan yang sewenang-wenang dari petugas keamanan Inspektur polisi Bakker pada rapat raksasa dalam rangka merayakan hari raya Iedul Adha seminggu yang lalu. Bersamaan dengan pernyataan dan permohonan tersebut, inspektur polisi Bakker mendapat hukuman pindah dan di keluarkan dari daerah Gorontalo.
Peristiwa-peristiwa perjuangan rakyat Gorontalo terus berkobar sambil mengalami masa pasang surut, kadang kala menggembirakan, kadang kala juga menyedihkan, demikian seterusnya sampai dengan meletusnya perang dunia ke II. Negara Indonesia sebagai satu daerah yang dijajah oleh Belanda sudah puluhan tahun terus berjuang untuk kemerdekaan nasional. Insyaf dan sadar terhadap bahaya yang akan menimpa sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan dan ketegangan-ketegangan politik dunia, bangsa Indonesia selalu mencari jalan keluar untuk menuju kepada perbaikan nasib dan kedudukan bangsa sebagai satu wilayah yang terletak dipersimpangan jalan Barat dan Timur.
Pada tahun 1939 berdiri Gabungan Politik Indonesia (GAPI) satu badan ynag bertujuan untuk mengerahkan dan mempersatukan tenaga para politikus-politikus Indonesia dalam satu badan yang kuat dan besar untuk menghadapi cita-cita perbaikan nasib bangsa di seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia. Disamping GAPI didirikan, badan Kongres Rakyat Indonesia dan Komite Indonesia Berparlemen juga didirikan dengan tujuan yang sama yaitu untuk mendesak kepada pemerintah Hindia-Belanda supaya mengadakan “PARLEMEN”, dengan maksud agar supaya bangsa Indonesia dapat mengeluarkan suara dan bersama-sama pemerintah Hindia-Belanda untuk turut menentukan nasibnya serta mengadakan perubahan-perubahan secara staatrechtelijk di segala bidang dengan turut menentukan sikap terhadap bahaya perang dunia yang mengancam.
Diseluruh Indonesia, di kota-kota besar berdiri cabang-cabang dari Komite Indonesia Berparlemen, sebagai badan pengembleng seluruh tenaga dan potensi rakyat dalam satu Kongres Rakyat Indonesia. Di Gorontalo pun tak ketinggalan dalam pembentukan Cabang Komite Indonesia Berparlemen dengan ketuan umumnya R.M. Kusno Danupojo. Komite Indonesia Berpalemen tersebut dengan tegas menyatakan sikapnya dan bahkan dalam satu rapat raksasanya R.M.Kusno Danupojo dengan cara yang tegas dan jantan mengecam WELTER, Menteri Urusan Daerah Seberang dari kabinet Belanda saat itu, sebagai akibat dari kecaman tersebut R.M.Kusno Danupojo terpaksa harus berurusan dengan kontrolir dan diperiksa dengan tuduhan telah menghina kepala Welter. Suasana politik di Gorontalo saat itu diliputi oleh suasana mendung, sementara itu datang berita yang cukup menggemparkan, bahwa kerajaan Belanda telah di kuasai oleh angkatan perang Jerman dan telah diduduki setelah lima hari melakukan perlawanan.
Di Indonesia oleh Gubernur jendral TJARDA VAN STARKEN BOROUGH dinyatakan S.O.B di seluruh Indonesia. Kalau di Eropa angkatan perang Jerman dengan lancar melakukan tindakan offensifnya dengan jatuhnya berturut-turut: Denmark, Norwegia, Luxemburg, maka di Asia di lautan pasifik awan pemerangan meliputi udara, sehingga keadaan sangat tegang dan tinggal menunggu saat meletusnya perang, sementara hasrat bangsa Indonesia untuk berparlemen tidak kesampain juga.
Pada tanggal 8 Desember 1941, datanglah berita yang sudah lama ditunggu-tunggu, yang telah menjadi harapan dari rakyat yang telah jengkel melihat sikap Belanda yang masa bodoh. Berita itu adalah penyerbuan Jepang terhadap pertahanan bersama Amerika, Inggris, Belanda dan Tiongkok (A.B.C.D front) di Asia. Dengan penyerbuan itu, maka gelombang perang terus bergelora dan berkecamuk dilautan pasifik yang riaknya terasa sampai keseluruh pantai di Asia. Hal inilah yang menambah kekecewaan rakyat Indonesia semakin meningkat terhadap Belanda, sementara kekuasaan Belanda saat itu mulai goyah dan terancam. Daerah Hindia-Belanda yang terletak di pantai Pasifik, tidak luput dari ancaman akan serangan angkatan tentara Jepang.
Berpedoman kepada pengalaman perang di daratan Eropa dimana angkatan perang Jerman terus maju sehingga tak terbendungkan oleh kekuatan angkatan perang sekutu, maka Prancis mengambil siasat Bumi Hangus, sementara kekuasaan Hindia-Belanda di Indonesia yang yakin akan kelemahan angkatan perangnya dibandingkan dengan kekuatan angkatan perang jepang lalu mengambil siasat Bumi hangus juga. Untuk keperluan tersebut dibentuklah satu komando BUMI HANGUS (vernielingskorps). Semua pengawal disemua instansi ditugaskan agar supaya merusak sedapat mungkin semua yang dianggap penting yang ada dibawa kompetensinya masing-masing.
Di Gorontalo usaha bumi hangus tersebut sudah dimulai dengan pembakaran motor “KOLOLIO” yang kebetulan sedang berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Bensin-bensin mulai di buang dari drumnya, jembatan-jembatan, gedung-gedung penting, kantor pos, bank, kesemuanya telah disiapkan dengan dynamiet dibawa tanah untuk diledakkan dan tinggal menunggu komando dari markas besarnya di Manado.
Syukurlah hal tersebut dengan perantara SARIPA RAHMAN HALA, seorang penyelidik dari kekuasaan Hindia-Belanda yang diambil sumpahnya oleh Asisiten Residen Corn di Gorontalo dengan diberi tugas untuk menjaga penyeberangan di Tangkobu (antara Gorontalo dan Paguyaman, informasi tentang bumi hangus dapat tercium oleh pemimpin-pemimpin yang tergabung didalam Komite Indonesia Berparlemen. Kepada SARIPA RAHMAN HALA oleh pemerintah Hindia Belanda ditugaskan untuk memutuskan tali tali kabel dari penyeberangan tersebut pada waktu yang telah ditentukan, sementara penyeberangan tersebut adalah urat nadi lalu lintas antara Gorontalo dan Paguyaman yang menghubungkan kota Gorontalo dengan daerah-daerah pedalamannya.
Sungguh pun SARIPA RAHMAN HALA sebagai seorang penyelidik yang telah diambil sumpahnya oleh kekuasaan Hindia-Belanda, namun terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap tanah air dan bangsa (beliau adalah seorang warga Muhamadiyah Gorontalo) yang berkeyakian bahwa bilamana usaha bumi hangus itu akan terlaksana pasti akan menimbulkan akibat kerusakan dan kebinasaan yang pada akhirnya rakyat dan penduduk Gorontalo jualah yang akan menderita dan merasakannya. Dengan jiwa patriotik inilah, beliau melepaskan diri dari ikatan belenggu sumpah yang telah diucapkannya kepada kekuasaan Hindia Belanda dan memihak kepada perjuangan Nasional Indonesia dengan lalu menggabungkan diri dengan gerakan nasional melalui perantara O.KAHARU dan AHMAD HIPY, anggota Komite Indonesia Berparlemen. SARIPA RAHMAN HALA lalu menceritakan instruksi-instruksi yang telah diterimanya dari asisten residen Corn, berita yang disampaikannya bukan saja mengenai pengrusakan penyeberangan Gorontalo-Paguyaman akan tetapi semua usaha pengrusakan objek-objek terpenting di seluruh daerah Gorontalo. Berdasarkan laporan inilah, AHMAD HIPY lalu menyampaikannya kepada R.M.Kusno Danupojo, sebagai Ketua Umum dari Komite Indonesia Berparlemen, dan informasi ini menjadi salah satu persolan terpenting dalam rencana usaha Komite Indonesia Berpalemen.
Dengan segera, diaturlah tindakan-tindakan untuk menggagalkan usaha kekuasaan Hindia-Belanda untuk melaksanakan usaha Bumi Hangus itu. Atas pimpinan R.M.KUSNO DANUPOJO dan NANI WARTABONE dengan dibantu yang lainnya, maka lalu diadakan seluruh persiapan-persiapan yang berkenaan dengan rencana itu. bahkan niat dan maksud tersebut bukan hanya berhenti untuk mengagalkan usaha kekuasaan Hindia Belanda dalam hal Bumi Hangus, akan tetapi persiapan tersebut telah dipersiapkan untuk melakukan perampasan kekuasaan dari para pembesar-pembesar Hindia-Belanda, tegasnya akan melakukan pemberontakan. Komite Indonesia Berparlemen yang tadinya sebagai badan perjuangan yang bersifat politik, lalu menjelma menjadi Badan Pemborontak yang telah bertindak secara tegas pada tanggal 23 Januari 1942 dengan menangkapi seluruh pembesar-pembesar bangsa Belanda dan pengawal-pengawal pemerintah Hindia Belanda lainnya.
Bersambung………

Oleh : Tonang Mallongi, S.Pd.MA
Kandidat Doktor Jurusan Pemikiran Politik Islam UIN Makassar Pernah tinggal di Belanda.
Pertama kali dipublikasikan di Gorontalo Post edisi 21 Januari 2008

2 komentar:

  1. tom oli'i... my grand father..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ternyata kipunya kakek baku kenal

      maaf baru bisa balas

      Hapus

Silahkan tinggalkan komentar anda di sini